cara membuat karamba untuk budidaya ikan nila

 

Sistemkarambaadalah sebuah sistem budidaya ikan yang dilaksanakan didalam sebuah wadah yang terbuat dari bambu maupun jaring.

Budidaya ikan dengan menggunakan sistem karamba dipelopori oleh para petani ikan yang berada disekitar aliran sungai Cibunut, Bandung pada periode tahun 1940an.
Berdasarkan letaknya didalam sebuah perairan, sistem karamba dapat dibagi menjadi 3 macam, yaitu karamba dasarkaramba bawah sertakaramba sejajar.

Beberapa jenis ikan air tawar yang ditengarai dapat tumbuh optimal apabila dipelihara dengan sistem karamba adalah ikan mas, ikan bandeng, ikan lele, ikan nila serta ikan mujaer.

BAGAIMANA MEMBUAT KARAMBA ?
Beberapa bahan yang harus dipersiapkan sebelum membuat karamba adalah :
balok kayu dengan ukuran panjang 3 m, lebar 7 cm dan tebal 7 cm, bambu yang telah berusia tua dan berukuran besar serta jaring dengan ukuran mata jaring yang disesuaikan dengan ukuran benih ikan yang akan ditebar.
Adapun tahap – tahap pembuatan filter alga adalah sebagai berikut :
  1. Pembuatan kerangka karamba dengan ukuran panjang 3 meter, lebar 2 meter dan tinggi 1 meter.
  2. Jika bahan yang akan digunakan untuk menutupi tiap sisi karamba adalah berupa bambu, maka bambu – bambu tersebut harus memiliki panjang 1 meter dan lebar 4 cm.
  3. Potongan bambu tersebut direkatkan kedalam kerangka karamba dengan menggunakan paku dan kawat.
  4. Untuk setiap karamba, pada bagian tengah sisi atas dan disalah satu sudut bagian depannya dibuat 1 buah pintu yang masing – masing berukuran 40 x 40 cm. Pintu yang terletak disisi atas karamba akan berguna untuk mempermudah operasional panen, sedangkan pintu yang terletak disalah satu sudut bagian depan karamba akan berfungsi sebagai akses dalam memberikan pakan terhadap ikan yang dipelihara.
KELEBIHAN KARAMBA

Beberapa kelebihan yang dapat diperoleh sehubungan dengan penggunaan karamba ini adalah :
  1. Ikan dapat lebih terlindung dari serangan hama, sehingga berbagai macam kerugian yang disebabkan oleh hal ini dapat lebih diminimalisir.
  2. Kondisi perkembangan dan kesehatan ikan dapat terpantau dengan lebih baik.
  3. Memberikan pasokan oksigen dalam jumlah yang memadai dikarenakan pergantian air terjadi setiap saat.
  4. Sisa makanan dan kotoran ikan dapat langsung terbuang.
Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

budidaya ikan nila di karamba sungai/danau

BUDI DAYA

IKAN NILA MERAH DALAM

KERAMBA JARING APUNG

DI LAUT

 

Ikan nila merah mampu hidup pada perairan tawar,payau dan laut. selama ini produksi ikan nila merah sebagian besar masih diproduksi dari hasil budidaya air tawar. Karena mampu beradaptasi pada kondisi perairan dengan rentang salinitas yang lebar maka ikan nila merah berpotensi untuk dibudidayakan di laut dengan sistem KJA.

Ikan nila merah mempunyai keunggulan antara lain:

(1) ikan nila merah respons terhadap pakan buatan (2) pertumbuhan cepat (3) dapat hidup dalam kondisi kepadatan tinggi (4) nilai perbandingan antara konsumsi pakan dan daging yang dihasilkan lebih rendah (5) tahan terhadap penyakit dan lingkungan perairan yang tidak memadai (6) rasanya enak dan banyak digemari masyarakat.

PERSYARATAN LOKASI

Beberapa aspek yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan lokasi budi daya diantaranyafisika, kimia dan biologi perairan. Ketersediaan bahan untuk rakit dan keramba, kemudahan mendapatkan benih dan pakan, daya serap pasar serta keamanan juga mesti diprhatikan. Teluk yang terlindung dari ombak dan badai memiliki pola penggantian massa air yang lancar dan bebas pencemaran baik dari limbah industri maupun limbah rumah tangga.

Beberapa kriteria peubah lingkungan untuk budi daya ikan nila merah dalam KJA yaitu salinitas 0-33 ppt, (asal perubahan salinitas harian tidak lebih 10ppt) temperatur 25-32°c, pH 6,5-8,5, oksigen terlarut 4-8 ppm, kecepatan arus 10-20 cm/dt, tinggi gelombang <1m, kecerahan >3m, dan kedalaman air 10-20 m.

DISAIN DAN KONSTRUKSI WADAH

1.Rakit

Sebagai tempat keramba dapat dibuat dari kayu, pipa besi anti karat atau bambu.

2.Pelampung

-Berupa drum plastik volume 200 liter.

-Satu unit KJA berukuran 5×5 m memerlukan 8-9 pelampung.

3.Pengikat

-Pengikat rakit bambu8 sebaiknya digunakan kawat yang berdiameter 4-5 mm.

-Rakit yang terbuat dari kayu atau pipa besi sebaiknya disambung dengan sistem baut.

-Untuk mengikat pelampung ke rakit, digunakan tali plastik yang berdiameter 5-6 mm.

4.Jangkar

berfungsi untuk menjaga rakit tidak terbawa arus.

5.Keramba

Keramba dibuat dari trawl yang bahannya dari polythene. ukuran mata jaring tergantung dari ukuran ikan yang akan di budidayaka.

6.Pemberat

-Berfungsi sebagai penahan arus agar jaring tetap simetris.

-Pada setiap sudut harus diberi pemberat dari batu timah atau semen cor (2-5 kg).

PENGELOLAAN BUDI DAYA

1. Pengadaan dan Pengangkutan Benih

a) Pengadaan Benih

Benih nila merah didatangkan dari balai benih dengan memesan benih nila merah yang unggul dengan ukuran yang seragam. Apabila ingin melakukan budidaya secara monoseks dipesan benih yang berjenis kelamin jantan. Ikan nila merah jantan lebih cepat tumbuh dan mempunyai ukuran lebih besar dari betina dengan waktu pemeliharaan yang sama.

b) Pengangkutan Benih

Apabila pengangkutan membutuhkan waktukurang dari 4 jam sebaiknya dilakukan dengan sistem terbuka. sedangkan apabila lebih dari 4 jam, pengangkutan dapat dilakukan dengan sistem tertutup menggunakan kantong plastik yang ditambahkan oksigen.

2. Penebaran Benih

Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari. Sebelum penebaran harus diperhatikan kondisi kualitas air. Bila kualitas air air pengangkutan beda dengan kualitas air lokasi budidaya, maka perlu dilakukan adaptasi secara perlahan-lahan terutama terhadap salinitas dan suhu. padat tebar yang optimal untuk diaplikasikan adalah 500 ekor/m³ dengan berat awal benih 15-20 g/ekor dan waktu pemeliharaan 3 bulan untuk sistim budidaya tunggal kelamin (jantan saja).

3.Pemberian Pakan

Ikan nila merah disamping bersifat herbivora juga bersifat omnivora sehingga dapat diberikan pakan buatan (pellet). pakan buatan yang diberikan adalah pellet dengan kandungan protein 26-28 sebanyak 3% per berat badan perhari dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali sehari yaitu pagi, siang, dan malam.

4. Perawatan Wadah

•Ganti keramba setiap bulan

•Bersihkan keramba dengan menjemur terlebih dahulu untuk memudahkan pelepasan fouling

•Pembersihan dapat dilakukan dengan penyikatan atau penyemprotan dengan pompa bertekanan tinggi

•Polikultur dengan ikan beronang dapat mengendalikan lumut dan alga yg menempel pada jaring

•Pemberian beberapa ekor bintang laut dalam keramba dapat mengendalikan perkembangan populasi kekerangan

PENYAKIT DAN PENCEGAHANNYA

Untuk mengetahui jenis penyakit dan cara pencegahannya diperlukan diagnosa gejala penyakit. Gejala penyakit untuk ikan nila merah yang dibudidayakan dapat diamati dengan tanda-tanda sebagai berikut:

a). Penyakit pada kulit dengan gejala pada bagian tertentu berwarna merah, berubah warna dan tubuh berlendir.

Gejala penyakit ini dikendalikan dengan: (1) merendam dalam larutan PK (Kalium Permanganat) selama 30-60 menit dengan dosis 2 g/10 liter air, pengobatan dilakukan berulang 3 hari kemudian. (2) Merendam dalam Negovon (Kalium Permanganat) selama 3 menit dengan dosis 2-3,5%.

b.) Penyakit pada insang dengan gejala tutup insang bengkak, lembar insang pucat/keputihan, pengendalian sama dengan di atas.

c.) Penyakit pada organ dalam dengan gejala perut ikan bengkak, sisik berdiri, ikan tidak gesit, pengendalian sama dengan di atas.

Secara umum hal-hal yang dilakukan untuk dapat mencegah timbulnya penyakit pada budidaya ikan nila merah di KJA adalah: (1) hindari penebaran ikan secara berlebihan melebihi kapasitas, (2) pemberian pakan cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya. (3) hindari penggunaan pakan yang sudah berjamur.

PANEN

Padat penebaran 500 ekor/m³ dan lama pemeliharaan 3 bulan, dapat dipanen ikan nila merah dengan produksi 85 kg/m³ dan sintasan 84%.

Pemanenan ikan di KJA mudah dilakukan namun harus hati-hati untuk mencegah terjadinya luka akibat gesekan atau tusukan sirip ikan lainnya, yaitu dengan mengangkat dasar keramba perlahan-lahan. Salah satu sisi keramba harus tetap berada dalam air untuk memungkinkan ikan berkumpul.

Seleksi ukuran dapat dilakukan terhadap ikan yang sudah terkumpul di sisi keramba dan ditangkap dengan menggunakan seser secara perlahan-lahan. Sistem pemanenan dapat dilakukan secara total atau selektif tergantung dari krbutuhan.

 

sumber; kkp.go.id

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

Usaha Budidaya Ikan Nila Gesit dalam Keramba Jaring Tancap di Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas

A. Judul

“Pemanfaatan Aliran Sungai untuk Usaha Budidaya Ikan Nila Gesit dalam Keramba Jaring Tancap di Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas”

B. Latar Belakang Masalah

Kabupaten Sambas adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Barat. Kabupaten Sambas memiliki luas wilayah 6.395,70 km atau 639.570 ha (4,36% dari luas wilayah Provinsi Kalimantan Barat), merupakan wilayah Kabupaten yang terletak pada bagian pantai barat paling utara dari wilayah Provinsi Kalimantan Barat. Di sektor perikanan, kabupaten ini menghasilkan berbagai komoditi perikanan yang dapat dibudidayakan di tambak, sungai maupun di kolam. Dari ketiga jenis perairan tersebut dapat dihasilkan suatu produksi perikanan yang memberikan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi nasional, yaitu peningkatan ekspor non migas yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan pendapatan asli daerah (PAD).

Usaha kearah pembudidayaan ikan di perairan umum sangat diperlukan sebagai penyeimbang dan membantu pemenuhan produksi ikan yang selama ini diperoleh dari hasil penangkapan yang cenderung semakin menurun. Hal ini tidak diimbangi dengan usaha budidaya dan penebaran ikan (restocking) yang akan mengakibatkan terganggunya kelestarian sumber daya perairan. Seiring dengan berkembangnya zaman dan meningkatnya pertambahan penduduk yang diiringi dengan semakin meningkatnya  kebutuhan protein hewani oleh manusia setiap tahunnya, maka perlu adanya peningkatan produksi ikan sebagai salah satu sumber pangan dan sumber protein. Peningkatan produksi perikanan dapat dilakukan dengan kegiatan pembudidayaan ikan.

Perairan umum yang bisa dimanfaatkan untuk budidaya perikanan dan belum diusahakan secara maksimal oleh masyarakat salah satunya adalah sungai. Air sungai dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan curah hujan, sehingga perairan cenderung tawar dan payau. Selain budidaya keramba apung atau dalam Keramba jaring Apung, budidaya perikanan di sungai juga dapat dilakukan dengan keramba jaring tancap (KJT).

Kabupaten Sambas memiliki 3 (tiga) Daerah Aliran Sungai (DAS) dengan total hamparan 516.200 ha, meliputi: DAS Paloh (64.375 ha), DAS Sambas (258.700 ha) dan DAS Sebangkau (193.125 ha). Berdasarkan Data Statistik Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Sambas (2007), Disektor perikanan potensi keramba yang dapat di bangun pada daerah aliran ini sekitar 3.872 unit atau dapat memproduksi 406,56 ton/tahun sedangkan jumlah keramba yang ada ± 70 unit dengan jumlah produksi 15,80 ton/tahun atau 3,9% dari potensi produksi lestari. Potensi DAS yang baru dimanfaatkan untuk budidaya ikan dikeramba hanya 1,9%, sehingga diperlukan suatu usaha agar potensi lestari tersebut dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Komoditas yang dapat dibudidayakan dalam keramba jaring tancap salah satunya Ikan nila(oreochromis niloticus). Ikan ini merupakan spesies penting dalam perikanan budi daya dan saat ini yang telah berkembang pesat. Selain sudah memasyarakat, budidaya ikan nila relatif mudah. Salah satu jenis yang sukses dikembangkan dalam berbagai prototipe adalah ikan nila Genetically Supermale Indonesian Tilapia (Gesit) karena lebih cocok di kembangkan di seluruh wilayah Indonesia. Ikan nila Gesit merupakan nila yang berasal dari perkawinan nila jantan super YY dengan betina normal, ikan ini secara resmi diluncurkan Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) pada 15 Desember 2006 di Wanayasa, Kab Purwakarta. Ikan nila gesit yang dikembangkan, yakni jenis jantan karena lebih menguntungkan secara ekonomis. Pertumbuhan ikan nila jantan 1,5 kali lebih cepat daripada yang betina. Ikan nila merupakan salah satu komoditas andalan untuk memproduksi ikan air tawar dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan, berupa fillet segar, fillet beku ataupun surimi yang memiliki potensi yang cukup besar di pasar internasional terutama Amerika Serikat dan Jepang.

C. Perumusan Masalah

Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi yang mengalir menuju Samudera, sungai terbentuk secara alami oleh poses alam. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan, embun, mata air dan di beberapa negara tertantu air sungai juga berasal dari lelehan es. Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian atau perkebunan, bahan baku air minum, sarana transportasi, daerah penangkapan ikan, sebagai saluran pembuangan air dan sangat potensial untuk objek wisata sungai. Selain itu sungai juga dapat dijadikan sebagai lokasi untuk usaha budidaya perikanan.

Pemahaman akan manfaat sungai untuk usaha budidaya ikan dalam keramba jaring tancap oleh masyarakat sangat minim, sehingga diperlukan suatu upaya untuk menggerakkan mereka dengan memberikan contoh bagaimana cara membudidayakan ikan dalam keramba jaring tancap.

D. Tujuan

Kegiatan PKMK ini bertujuan untuk memanfaatkan aliran sungai yang ada di Desa Semperiuk sebagai usaha budidaya ikan nila gesit dalam keramba jaring tancap dan sebagai perintis usaha budidaya ikan dalam keramba jaring tancap, sehingga dapat memotivasi masyarakat untuk berwirausaha.

E. Luaran Yang Diharapkan

Luaran yang diharapkan dari program ini adalah memproduksi ikan nila hidup dan segar yang siap dipasarkan kepada konsumen.

F. Kegunaan

Kegunaan yang akan diperoleh dari kegiatan ini antara lain dapat menciptakan usaha lapangan pekerjaan baru, menumbuh kembangkankan jiwa kewirausahaan  bagi mahasiswa untuk memasuki dunia kerja, sebagai pekerjaan tambahan yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat dan dapat mengurangi jumlah pengganguran.

G. Gambaran Umum Rencana Usaha

1.  Keadaan Umum Desa

Desa Semperiuk merupakan salah satu dari ratusan Desa yang ada di Kabupaten Sambas, terletak di Kecamatan Jawai Selatan. Desa ini hanya dapat ditempuh melalui jalur darat dengan menyeberangi sungai. Jarak dari Kota Sambas sekitar 2 jam dan 6 jam dari Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat jika menggunakan kendaraan bermotor dan memerlukan waktu setengah jam untuk menyebrangi sungai. Di sebelah Selatan Desa Semperiuk berbatasan langsung dengan Sungai Sambas, sebelah Utara berbatasan Desa Suah Api, sebelah Timur berbatasan Desa Sabaran dan di bagian Barat berbatasan dengan Desa Sarilaba. Beberapa anak sungai yang ada di Semperiuk bermuara di DAS Sambas.

Sungai dimanfaatkan warga setempat untuk lahan penangkapan ikan, keperluan pengairan sawah dan perkebunan serta  sarana transportasi air. Sedangkan untuk usaha budidaya sungai ini belum sama sekali dimanfaatkan oleh masyarakat. Setiap musim kemarau anak sungai yang ada tidak pernah mengalami kekeringan, karena sumber air dipengaruhi oleh pasang surut air laut yang dibawa oleh induk sungai. Sebaliknya dimusim hujan, sungai ini tidak pernah meluap karena pergerakan air yang cukup lancar. Salinitas di Sungai ini tergantung pada musim, disaat curah hujan tinggi air cenderung tawar sedangkan di musim kemarau air akan payau.

2. Potensi Yang di Miliki

Tersedianya air sepanjang tahun dan belum dimanfaatkannya sungai secara maksimal oleh  masyarakat setempat, sehingga diperlukan suatu usaha agar sungai  dapat memberikan kontribusi lebih. Pemeliharaan ikan atau dikenal dengan budidaya merupakan suatu usaha yang menjanjikan untuk mengoptimalkan fungsi dari sungai yang ada. Budidaya ikan di sungai dapat dilakukan dengan keramba jaring tancap. Budidaya dengan keramba jaring tancap desainnya sangat sederhana, pengoperasiannya  mudah dan dana yang diperlukan untuk membuat keramba juga tidak terlalu besar. Sehingga setiap warga yang bermukim ditepian sungai dapat melakukan usaha ini tanpa mengganggu pekerjaan utamanya.

Ikan air tawar yang paling cocok dibudidayakan di sungai Semperiuk yang sumber airnya sangat dipengaruhi oleh pasang surut air laut adalah jenis nila. Ikan nila merupakan ikan yang mampu bertahan hidup pada berbagai kondisi lingkungan terutama perubahan salinitas. Selain tahan terhadap kadar garam yang tinggi, pertumbuhan ikan nila juga tergolong cepat karena respon terhadap pakan buatan dalam waktu 3-4 bulan sudah mencapai ukuran konsumsi.

3. Peluang Pasar dan Analisa Biaya

Ikan nila mempunyai nilai gizi yang tinggi terutama kandungan protein, rasanya yang gurih dan nikmat sehingga banyak digemari setiap lapisan masyarakat. Ikan nila yang akan diproduksi dapat dipasarkan langsung pada konsumen, rumah-rumah makan, para pengumpul ikan. Tidak hanya dikonsumsi dalam bentuk ikan segar, ikan nila juga dapat dibuat berbagai macam  bentuk olahan, berupa fillet segar, fillet beku ataupun surimi yang memiliki potensi yang cukup besar di pasar internasional.

Suatu usaha akan kehilangan daya tariknya bila usaha itu tidak menjanjikan keuntungan. Untuk mengetahui seberapa besar keuntungan yang akan didapat dari usaha yang dilakukan maka di perlukan analisa usaha. Analisa biaya dalam kegiatan usaha budidaya ikan nila  pada keramba jaring tancap dengan ukuran 2×3 m, 1 unit keramba akan ditebar 1.000 benih ikan nila dan akan dibangun 2 unit keramba. Maka berikut analisanya.

Ukuran panen ikan nila rata-rata 300 gram selama masa pemeliharaan 3 bulan, dengan tingkat kelangsungan hidup 80%. Maka jumlah produksi 2 x 1.250 ekor x 300 gram x 80% = 600.000 gram. Harga ikan nila di pasaran perkilogramnya Rp.20.000,-, maka pendapatan kotor diperoleh 600 kg x Rp.20.000,- = Rp.12.000.000,-

a. Biaya Investasi

- 2 Unit Keramba jaring tancap @ Rp. 750.000,-                = Rp.1.500.000,-

- Peralatan                                                                                            = Rp.   600.000,-   +

Jumlah Biaya Investasi                                                                   = Rp.2.100.000,-

b. Biaya operasional

- Penyusutan Keramba 15% x Rp. 1.500.000,-                    = Rp.    225.000,-

- Penyusutan Peralatan 10% x Rp.    600.000,-                   = Rp.      60.000,-

- Obat-obatan dan bahan kimia                                                   = Rp.    500.000,-

- Benih ikan nila 2000 ekor x Rp.600,-                                   = Rp. 1.200.000,-

- Pakan 300 kg x Rp.8.000,-                                                        = Rp. 2.400.000,-  +

Jumlah Biaya Operasional                                                             = Rp. 4.385.000,-

c. Keuntungan operasional

Pendapatan – Biaya Operasional =  Keuntungan operasional

Rp. 12.000.000,- – Rp. 4.385.000,-  =   Rp. 7.615.000,-

d. Break Ovent Point (BEP)

BEP Produksi       = Biaya operasional : Harga jual/kg

Rp. 4.385.000,- :   Rp. 20.000,- / kg

= 219,25 kg

Artinya, titik balik modal akan tercapai apabila jumlah produksi ikan nila sebesar 219,25 kg.

BEP Harga            = Biaya Operasional : Total Produksi

Rp. 4.385.000,- :  600 kg  = Rp. 7.308,3,-/kg

Artinya, titik balik modal akan tercapai apabila harga produksi ikan nila sebesar Rp. 7.308,3,-/kg.

e. Benefit Cost Ratio (B/C)

B/C ratio = Pendapatan : Biaya Operasional

Rp.12.000.000,- : Rp. 4.385.000,-

= 2,74 %

Nilai B/C ratio sebesar 2,74 menunjukkan bahwa usaha budidaya ikan nila sangat layak dilakukan. Dari setiap Rp. 1,- akan diperoleh keuntungan Rp. 2,74,-.

f. Pengembalian Modal

Pengembalian Modal    = Biaya Operasional : Keuntungan Operasional

=      Rp. 4.385.000,- :       Rp. 7.615.000,-        = 0,57

Artinya, modal yang dikeluarkan pada usaha budidaya ikan nila ini dapat    dikembalikan dalam waktu 0,57 kali periode.

H. Metode Pelaksanaan

1. Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Usaha ini akan dilakukan di Desa Semperiuk Kecamatan Jawai Selatan Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat. Waktu pelaksanaan kegiatan dilakukan mulai bulan Februari 2010.

2. Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan dalam usaha ini antara lain, benih ikan nila gift ukuran 5 cm, pakan ikan, obat-obatan. Sedangkan alat yang diperlukan adalah waring (jaring), kayu cerocok, batu pemberat, ember, serokan, timbangan, kantong plastik, tali dan paku

3. Pemilihan Lokasi

Pemilihan lokasi untuk usaha budidaya ikan perlu dipertimbangkan agar usaha yang dilakukan dapat berjalan sesuai dengan harapan dan dapat berkesinambungan. Tidak semua sungai dapat dijadikan tempat usaha budidaya dalam keramba jaring tancap. Aspek teknis seperti kondisi perairan (sungai) dan kualitas air sangat berperan penting bagi pertumbuhan ikan yang akan dipelihara. Selain aspek teknis, aspek sosial ekonomi juga  harus diperhatikan meliputi prasarana jalan, keamanan, mudah mendapatkan tenaga kerja, dekat dengan daerah pengembangan budidaya ikan dan pemasaran.

4. Pembuatan Keramba Jaring Tancap

Setelah bahan dan alat guna membuat keramba jaring tancap telah tersedia maka langkah yang dilakukan adalah :

a.Buat kerangka menurut ukuran yang dikehendaki, dalam hal ini panjang 3 meter, sedang lebar 2 meter. Kemudian kayu gelam (cerocok) ditancapkan kedalam lumpur untuk membuat kerangka keramba. Empat tiang memanjang yang masing-masing merupakan tulang tempat mengikat tiang-tiang melintang.

b.Kayu cerocok diikat dengan tali tambang/rotan atau dipaku antara tiang yang telah ditancapkan dengan tiang-tiang melintang kerangka yang bentuknya menyerupai balok.

c Setelah kerangka tiang terbentuk persegi panjang dengan ukuran 2×3 m, maka waring dipasang pada kerangka yang diikat dengan tali tambang. Jaring yang digunakan ada 2 macam, yaitu jaring dalam sebagai wadah budidaya dan jaring luar dengan ukuran mata jaringnya agak besar yang berfungsi untuk pelindung jaringwadah  budidaya atau pencegah serangan hama.

d Kemudian masukan waring kedalam air hingga hampir menyetuh lumpur, titik atas waring jangan sampai tenggelam pada saat pasang air tertinggi atau banjir. Dan ketika surut terendah tinggi air dalam waring tidak kurang dari 50 cm.

5. Teknik Budidaya

Budidaya ikan di keramba jaring tancap yang harus pertama kali diperhatikan adalah debit air dan arus air pada sungai tersebut, pemilihan tempat untuk keramba jaring tancap harus memilih tempat yang susah untuk mengalami kekeringan air. Peletakan jaring tancap didaerah yang berarus kecil dan dalam dengan kedalaman ideal untuk keramba jaring tancap adalah 60-70 cm. Apabila keramba jaring tancap sudah dibuat maka dilakukan teknik budidaya yang meliputi :

a.Penebaran benih ikan nila gift kedalam wadah budidaya. Penebaran benih ikan sebaiknya pada pagi atau sore hari saat kondisi perairan tidak terlalu panas agar ikan tidak stres. Sebelum ikan ditebarkan perlu dilakukan aklimatisasi atau penyesuaian kondisi lingkungan sekitar. Caranya ialah  ikan dalam kantong plastik (wadah pengangkutan) dibiarkan terapung dalam perairan sekitar 2-4 menit, kemudian secara bertahap air perairan sedikit demi sedikit dimasukkan kedalam wadah pengangkutan. Bila kondisi air dalam wadah pengangkutan dengan air perairan sudah sesuai (sama), maka ikan-ikan yang ada dalam wadah pengangkutan biasanya akan keluar dengan sendirinya.

b.Pemberian pakan. Masa pemeliharaan ikan selama 3 bulan, pakan yang diberikan berupa pakan buatan berupa pellet yang banyak tersedia di pasaran. Selain pakan berupa pellet, pakan tambahan lainnya dapat juga diberikan seperti tanaman air dan daun-daunan. Bulan pertama pemeliharaan, setiap hari pakan diberikan sebanyak 4% dari berat total ikan yang dipelihara. Bulan kedua jumlah pellet dikurangi menjadi 3,5% dan bulan ketiga pemeliharaan maka setiap harinya pakan yang diberikan adalah 3% dari berat total ikan. Agar jumlah pakan yang diberikan dapat ditentukan maka setiap 7-10 hari sekali dilakukan sampling untuk menentukan berat ikan. Pakan diberikan tiga kali sehari, yaitu pada pagi, siang dan sore hari. Pemberian pakan dilakukan sedikit demi sedikit sesuai dengan nafsu makan ikan.

c.Pengendalian hama dan penyakit ikan. Selama pemeliharaan, kesehatan ikan selalu diamati agar dapat melakukan penaggulangan sedini mungkin. Hama ikan dapat berupa hama perusak, pesaing dan pemangsa yang dapat mengganggu pertumbuhan ikan sehingga menurunkan jumlah produksi. Hama tersebut dapat dibasmi secara kimia (menggunakan obat-obatan), biologi (menekan pertumbuhannya dengan memasukkan hewan predator) maupun menangkap hama secara langsung. Apabila ditemui tanda-tanda serangan penyakit, maka segera dilakukan diagnostik dan pengobatan serta memisahkan atau membuang ikan yang terserang agar tidak menginfeksi  ikan yang sehat. Kebersihan keramba harus selalu tetap terjaga dan selalu melakukan pengontrolan terhadap jaring karena dikhawatirkan ada yang bocor.

6. Pemanenan dan Pemasaran

Pemenenan ikan dilakukan apabila masa pemeliharaan sudah mencapai 3 bulan, dilakukan dengan cara mempersempit ruang gerak ikan di dalam kantong keramba. Hal ini dilakukan dengan cara salah satu sisi kantong jaring dengan sisi lainnya dirapatkan. Dengan cara ini ikan-ikan yang akan ditangkap tergiring dan terkumpul di satu tempat sehingga mudah dipanen. Ikan-ikan yang sudah terkumpul diambil menggunakan serokan dan dimasukkan kedalam wadah. Ikan yang telah dipanen akan dipasarkan dalam bentuk ikan hidup dan segar  ke rumah-rumah makan, pasar ikan tradisional, para pengumpul ikan dan langsung kekonsumen.

I. Jadwal Kegiatan

No Uraian Kegiatan Bulan ke
1 2 3 4 5
1. Pembuatan proposal X
2. Persiapan peralatan dan bahan X
3. Pelaksanaan program 

-    Pembuatan keramba jaring tancap

-    Penebaran benih ikan

-    Pembesaran

-    Pemenenan

-    Pemasaran

 

X

X

X

 

 

 

X

 

 

 

X

X

X

4. Pengumpulan dan analisis data X X
5. Pembuatan draf laporan dan seminar intern X X
6. Pembuatan laporan final X
7. Pengiriman laporan X

J. Rancangan biaya

a. Pembuatan 2 unit keramba jaring tancap                                        Rp.1.500.000,-

b. Peralatan Budidaya                                                                                   Rp.   600.000,-

c. Benih Ikan Nila Gesit 2000 ekor @ Rp.600,- Rp.1.200.000,-

d. Pakan ikan 300 kg @ Rp.8000,-                                                          Rp.2.400.000,-

e. Obat-obatan dan bahan kimia                                                                Rp.   500.000,-

f. Timbangan                                                                                                        Rp.   550.000,-

g. Dokumentasi                                                                                                  Rp.   350.000,-

h. Biaya Transportasi, konsumsi dan akomodasi                                Rp.1.600.000,-

i.  Pembuatan Laporan dan penenelusuran data                                 Rp    450.000,-

j. Fotocopy dan ATK                                                                                       Rp.   400.000,-

k. Lain-lain                                                                                                          Rp.   400.000,-

Jumlah                                                                                                                 Rp.9.950.000,-

Posted in Uncategorized | Tagged , , | Leave a comment

budidaya ikan nila merah di kolam tanah

Dalam beberapa hal sebagai pemula kita kadang mengabaikan beberapa ilmu dasar dalam berternak/budidaya ikan nila merah sehingga para pemula mengalami kegagalan dalam membudidayakan ikan Nila merah.

benih larva nila merahkolam benih nila

 langkah awal dalam membudidayakan ikan Nila merah yang baik dan beberapa tips
1. Persiapan kolam
2. Pengairan Kolam
3.  Memasukan benih ikan
4.   Pemberian pakan
5.   Pemanenan
1.   Persiapan Kolam
·         Perataan Kolam
Lakukan perataan kolam anda dengan menggunakan sorongan atau papan dan pembuatan kamalir dengan mengunakan cangkul,
Lalukan perataan kolam setelah proses pembedahan air kolam ( proses pengeringan/penyurutan air kolam )
Mungkin anda bertanya kenapa harus setelah pengeringan air kolam dan pengambilan ikan yg tersisa dikolam?
Karena kalau sehari sesudah pengeringan air kolam maka lumpur akan mulai mengeras sehingga sulit untuk diratakannya.
·         Pengeringan Dasar Kolam
Pengeringan dasar kolam dilakukan 3-5 hari setelah pengeringan air kolam
Pengeringan dasar kolam berfungsi untuk membunuh bibit penyakit dan supaya tanah dapat menyerap oksigen.oh ya…lakukan pengeringan sampai tanah dasar kolam terlihat retak – retak seperti terlihat di gambar,jadi anda dapat berimprovisasi dalam mengeringkan dasar kolam semua tergantung keadaan cuaca daerah masing – masing.
·         Pengapuran
Lakukan pengapuran dasar kolam dengan takaran 0,5 gr/m2  jadi tinggal dikalikan luas kolam anda masing – masing,berapa kapur yang anda perlukan…:)….
Dan setelah itu masukan air setinggi  mata kaki atau 5 – 10 cm biarkan selama 1 hari.seperti gambar diatas yang paling bawah jangan lupa pake saringan saat memasukan air ke kolam.
Apa fungsi melakukan pengapuran?
proses pengapurann dasar kolam berfungsi untuk membunuh bibit penyakit atau membunuh ikan tersisa dikolam setelah pengeringan air kolam sekaligus menetralkan PH tanah.
Kenapa ikan yang tersisa harus di bunuh?
karena ikan yang tersisa dikolam akan menjadi hama.karena pas kita memasukan benih ikan,ikan yang tersisa tersebut akan memakan larva atau benih ikan yang baru kita tanam.
Kapur dapat anda beli di toko material bangunan satu karung dengan berat 25 kg seharga Rp.8000,00
·         Pemupukan
Pemberian pupuk kandang dilakukan bisa bersamaan dengan proses pengapuran kolam,tetapi lebih baik pemupukan dilakukan sehari setelah proses pengapuran.
Takaran pupuk kandang adalah 50 gr/m2 jadi anda masing – masing tinggal mengalikan dengan dengan luas kolam masing – masing.contohnya luas kolam anda 500 m2 * 50 gr = 25.000 gr = 25 kg,jadi anda memerlukan pupuk kandang sebanyak 25 kg.cara pemberian pupuk dapat dilakukan dengan cara disebarkan secara merata.
Kalo anda menggunakan pupuk buatan takaran yang mesti anda lakukan adalah 2,5 gr/m. Anda sudah dapat menghitung sendiri,berapa pupuk buatan yang diperlukan?:)…..
oh ya penggunaan pupuk buatan sebaiknya anda gunakan ponska atau anda juga bisa menggunakan urea dan TS yang sudah dicampurkan.
Sebagai tambahan anda bisa tambahkan EM4 dengan botol yang berwarna pink.
Dengan takaran satu botol EM4 untuk satu hektar luas kolam.
2.Pengairan Kolam
Setelah proses pemupukan selesai aliri kolam tetapi sebelum dialiri dengan air,anda harus membuat saringan/sosog di tempat atau paralon (pipa) pemasukan.
Fungsi saringan/sosog/sulumbung selain untuk menyaring sampah yang masuk kekolam berfungsi juga sebagai penyaring untuk ikan gabus, lele atau jenis ikan2 lainnya yang dapat menjadi hama pada saat larva ikan dimasukan kekolam.
Lakukan pengairan kolam hingga kedalaman 50 cm,setelah itu tutup air masuk ke kolam dan biarkan stagnan selama 7 – 10 hari sebelum larva/benih ikan nila dimasukan.
Pembiaran air selama 7 – 10 hari supaya planton,jentik nyamuk,cacing dan anak keong dapat tumbuh dengan maksimal karena berfungsi sebagai pakan alami yang baik untuk larva/benih ikan nila.perlu anda perhatikan selama 7 – 10 hari tersebut anda harus rajin memeriksa sekeliling kolam tiap pagi hari kisaran jam 7 – 8 pagi.siapa tahu ada telur katak/kodok,kalau ada anda buang karena setelah menetas menjadi kecebong dapat memakan pakan ikan ketika ikan mulai dikasih pakan pelet.selain itu periksa siapa tahu juga ada kebocoran kolam disebabkan kepiting/ketam dan anda harus segera menutupnya.
Setelah proses diatas kita lanjutkan ketahap selanjutnya…
3.Memasukan Benih Ikan
           Tingkat kepadatan ikan/m2  yang baik adalah 30 – 50 ekor/m jangan lebih dari 50 ekor karena itu sudah maksimal, jangan terlalu jarang atau terlalu padat karena tidak bagus.
Jadi hitungannya, contoh luas kolam anda 500 m2  * 40 = 20.000 jadi anda tanam benih ikan sebanyak 20.000 ribu ekor.
Perlu anda perhatikan kembali sebelum memasukan benih ikan sehari sebelumnya coba anda periksa warna air kolam apakah sudah hijau bening/transfaran itu sudah bagus, selanjutnya periksa juga apakah air masih berbau tidak sedap atau sudah tidak berbau?kalau sudah tidak berbau berarti kolam sudah siap dimasukan benih ikan,sedangkan kalau masih berbau tunggu beberapa hari lagi sampai tidak tercium bau apa – apa karena kolam yang airnya masih berbau itu tanda dari kandungan amoniak yang masih tinggi dan kalau anda memaksa untuk dimasukan ,benih ikan akan mati ( banyak yang mati).
       Selanjutnya anda coba serok air dengan menggunakan planktonet periksa apakah terdapat ulat air/ucrit (ucit – ucit dalam bahasa sunda ) atau tidak?dan jika terdapat banyak ulat air sebaiknya anda melakukan penyemprotan dengan menggunakan chix sehari sebelum pemasukan benih ikan.
lakukan penyemprotan dengan merata…
     Sehari setelah proses penyemprotan selesai,pemasukan benih ikan sebaiknya dilakukan pada pagi dan sore hari pada saat suhu air tidak terlalu tinggi.
Dan sebelum benih ikan dimasukan sebaiknya dilakukan penyesuaian suhu air di dalam plastik pengepakan dengan air kolam ( aklimatisasi ) selama 15 menit. Supaya benih ikan tidak stress saat dimasukan kedalam kolam
Setelah proses aklimatisasi selesai anda bisa lakukan pemasukan benih ikan nila,proses pemasukan benih sebaiknya lakukan dengan perlahan – lahan agar benih tidak Stres.
       Setelah selesai memasukan benih ikan nila,biarkan selama 10 hari jangan di aliri air.
Fungsi kolam di biarkan stagnan selama 10 hari setelah pemasukan benih supaya plankton,jentik nyamuk dan makanan alami lainnya tidak terbuang lewat pipa pembuangan.jadi benih ikan nila dapat optimal memakan makanan alami tersebut.
Selanjutnya kita lanjutkan keproses pemberian pakan ikan.
2.Pemberian Pakan Ikan
                        Proses pemberian pakan saat pertama kali anda lakukan adalah setelah 10 hari benih ikan nila di masukan atau ketika benih ikan mulai muncul dipermukaan air.
Takaran pemberian pakan adalah :
Ukuran larva – 8 gr => 10 – 20 % dari biomasa
Ukuran 10 gr => 5 – 10 % dari biomasa
Sebagai contoh hitungannya :
ikan ukuran 8 gr berapa banyak pakan harus diperlukan?
Berarti 8 * 40000 * 10 % = 320000 * 10 % = 32000 gr = 32 kg
      Jadi perhari anda harus memberi pkan sebanyak 32 kilo di bagi 3 – 4 kali pemberian pakan. jadwal pemberikan pakan sebaiknya di mulai jam 8 – 9 pagi atau pada saat air kolam mulai terasa hangat.jangan lakukan pemberian pakan di air kolam yang masih dingin karena ikan tidak akan memakannya sehingga banyak pakan yang terbuang,selain itu menyebabkan air kolam menjadi bau (beramoniak) dan menyebabkan ikan menjadi sakit dan mati.
     Pemberian pakan sebaiknya anda oplos antara pakan pelet silem dan apung,selain untuk mengurangi biaya pembelian pakan apung yang mahal hasil panen juga dapat optimal ( karena kami sudah mempraktekannya ).
Pada awal pemberian pakan anda dapat menggunaka pelet silem sebanyak 50 – 100 kg dan seterusnya dapat anda gunakan pelet apung sampai panen.
      Pada saat anda memberikan pakan ke benih sebaiknya jangan terburu – buru tetapi sedikit – sedikit karena pemberian pakan terlalu banyak dapat menyebabkan ikan makan tidak optimal sehingga banyak pakan ikan yang tidak termakan sehingga mengendap di dasar kolam ( terutama yang menggunakan pakan silem)plus lagi anda lihat kondisi ikan,apakah ikan lahap atau tidak pas dikasih makan?kalau terlihat tidak lahap sebaiknya anda kurangi dulu proses pemberian pakan dan chek apa penyebabnya?kondisi air yang masih dingin dibawah 300C bisa jadi penyebabnya,kalau begitu anda tunggu sampai air kolam terasa hangat.atau bisa juga aliran pemasukan air tertutup sehingga air bau karena tidak tersirkulasi dengan benar dan oksigen di air kolam sedikit.
       Selain itu sebaiknya anda menggunakan pakan yang berkualitas baik dengan kadar protein 34 %.
3.Pemanenan
Dalam pemanenan ikan ada 2 tahap yang perlu diperhatikan,yaitu :
·         Penjebakan
·         Penyimpanan ikan
·         Penjebakan
    Penjebakan adalah proses pengambilan ikan sebelum proses pembedahan,dengan tujuan mengurangi resiko kematian ikan pada saat proses pembedahan ikan ( pengeringan kolam ikan )…
Jadi pada proses pembedahan kolam ikan yang tersisa di kolam tinggal sedikit atau hanya sisanya saja.
Proses penjebakan ikan menggunakan waring penjebakan,,pasang waring penjebakan 3 – 4 hari sebelum penjebakan ini dimaksudkan supaya ikan ngumpul saat proses pengangkatan jebakan dan hasil pengangkatan jebakan bisa maksimal dan sisa ikan dikolam tinggal sedikit.
Gambar proses penjebakan.
                                    Sebagai masukan biarkan waring penjebakan selama 3 – 4 hari sambil kita memberi pakan seperti gambar diatas
·         Penyimpanan ikan
     Pada proses ini,penyimpanan ikan bertujuan untuk mengurangi resiko ikan supaya tidak stres pada proses pengemasan/pengepakan ikan dan memberok ikan ( memberok ikan yaitu membiarkan ikan membuang kotoran supaya dalam proses pengemasan ikan dalam balon ikan tidak mengeluarkan kotoran,sehingga tidak terjadi proses pembusukan (amoniak tidak timbul)
Dan apabila telah telah disimpan selama satu hari ikan siap untuk di pak atau dikemas dalam balon ( satu hari penyimpanan adalah cara paling bagus untuk ikan )
NB: sebaiknya lakukan pengepakan pada sore hari atau subuh
sumber upr citomi
Posted in Uncategorized | Tagged , | Leave a comment

cara memijahkan/pembenihan ikan nila

 

Untuk melakukan pembenihan ikan nila ada langkah-langkah yang harus kita laksanakan, untuk lebih jelasnya dapat sobat lihat di bawah ini.
Langkah Pertama : Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan pemijahan ikan nila antara lain peneplokan/ perapihan pematang agar pematang tidak bocor, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan saringan di pintu pemasukan serta pengisian kolam dengan air. Pemasangan saringan dimaksudkan untuk menghindari masuknya ikan-ikan liar sebagai predator atau kompetitor yang dapat mempengaruhi kuantitas hasil produksi maupun kualitas benih yang dihasilkan.
 
Langkah Kedua : Pemijahan
Jumlah induk dalam satu populasi pemijahan secara masal disebut satu paket. Satu paket induk berjumlah 400 ekor yang terdiri dari 100 ekor jantan dan 300 ekor betina (Ne = ±133,3). Dengan induk sejumlah ini diharapkan dapat menghambat laju silang dalam dan memungkinkan keturunannya dapat dijadikan induk kembali setelah melalui kegiatan seleksi. Penebaran induk dilakukan pada pagi hari saat suhu udara dan air masih rendah. Padat tebar induk adalah 1 ekor/m2, sehingga satu paket induk sebanyak 400 ekor memerlukan lahan untuk pemijahan seluas 400 m2. Satu periode pemijahan berlangsung selama 10 hari untuk dapat dilakukan pemanenan larva. Proses pemijahan sendiri dapat berlangsung selama delapan periode pemijahan dengan delapan kali pemanenan larva, tanpa harus mengangkat induk. Setelah akhir periode, induk diangkat dari kolam pemijahan dan dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina untuk pematangan gonad selama 15 hari. Selanjutnya paket induk tersebut dimasukkan kembali kedalam kolam pemijahan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
Langkah Ketiga : Pengolahan Pakan dan Air
Dosis pemberian pakan adalah 3% dari bobot biomas untuk lima hari pertama pemijahan dan 2-2,5% untuk lima hari berikutnya sampai panen larva. Penurunan dosis pemberian pakan ini disesuaikan dengan kondisi bahwa sebagian induk betina sedang mengerami telur dan larva. Pakan yang diberikan harus cukup mengandung protein ( 28-30%). Selama pemijahan debit air diatur dalam dua tahap, yakni 5 hari pertama lebih besar 5 hari kedua. Debit air dalam 5 hari pertama adalah dalam rangka meningkatkan kandungan oksigen dalam air, memacu nafsu makan induk disamping mengganti air yang menguap. Sedangkan untuk 5 hari kedua debit air hanya dimaksudkan untuk mengganti air yang terbuang melalui penguapan sedemikian rupa tanpa melimpaskan air ke luar kolam.
Langkah Keempat : Panen Larva
Panen larva dilakukan setiap sepuluh hari sekali pada pagi hari. Tergantung luas kolam, penyurutan kolam dapat mulai disurutkan sehari sebelumnya. Penyurutan air kolam dilakukan pertama-tama sampai setengah-nya. Sebelum surut total, bak tempat panen larva perlu dibersihkan dari lumpur dengan cara membuka sumbat outlet kobakan. Penyusutan secara total dilakukan sampai air hanya tersisa pada kobakan saja. Induk dan larva akan berkumpul pada kobakan, dan segera dilakukan pengambilan larva menggunakan scoop net. Kemudian larva ditampung sementara dalam hapa ukuran 2 x 2 x 1 m3 dengan mesh size 1,0 mm. Proses pengambilan larva ini dapat dilakukan oleh dua orang. Pemungutan larva dilakukan secara total sampai bersih termasuk yang masih terdapat dalam sarang, dengan cara membongkar sarang dan mengarahkan larva ke kobakan.
Biasanya setelah larva ikan nila dipanen, maka larva ikan akan diberikan perlakuan yang disebut dengan Pendederan (pembesaran). Untuk tahap-tahap pendederan dapat anda baca di bawah ini.
Langkah Pertama : Persiapan Kolam
Persiapan kolam untuk kegiatan pendederan ikan nila antara lain peneplokan pematang dengan kontruksi tanah, meratakan dasar kolam dengan kemiringan mengarah ke kemalir, membersihkan bak kobakan, menutup pintu pengeluaran dengan paralon, pemasangan penyaring di pintu pemasukan air, pemupukan dengan dosis 250-500 gram/m2 (sesuai dengan kesuburan tanah dan air), pengapuran (bila perlu) serta pengisian kolam dengan air.
Langkah Kedua : Padat Tebar
Pendederan ikan nila dilakukan dalam dua atau tiga tahap. Pendederan tiga dapat langsung merupakan lanjutan dari pendederan kedua. Lama pendederan pertama adalah 30 hari dengan target benih berukuran 3-5 cm. Pendederan kedua dan ketiga, masing-masing juga 30 hari. Benih hasil pendederan ketiga berukuran sekitar 20-30 gram/ekor. Padat tebar pendederan pertama adalah 100-200 ekor/m2, sedangkan untuk pendederan kedua dan ketiga masing-masing 75-100 dan 50 ekor/m2.
Langkah Ketiga : Pengolahan Pakan dan Air
Dosis pemberian pakan pendederan 1, 2 dan 3 masing-masing adalah 20, 10 dan 5% dari bobot biomas/hari. Pakan diberikan sehari 3 kali. Kandungan protein dalam pakan sekitar 26-28%. Debit air dalam pendederan satu dan kedua tidak terlalu besar, yakni sekedar mengganti air yang menguap dan rembes. Namun untuk pendederan ketiga debit air juga dimaksudkan untuk meningkatkan daya dukung media terutama ketersedian oksigen yang berguna dan dapat meningkatkan nafsu makan serta laju pertumbuhan.
Langkah Keempat : Panen Benih
Panen benih harus dilakukan pada saat suhu air kolam dan udara relatif sejuk, terutama pada pagi hari. Hal ini untuk menekan angka kematian saat panen. Setelah benih dipanen, maka ikan bisa disebar ke dalamkolam yang telah disediakan sebelumnya.
Posted in Uncategorized | Tagged , , , , , , , | Leave a comment

Penilaian Variets Ikan Nila Salin (Nila Srikandi)

Penilaian Variets Ikan Nila Salin (Nila Srikandi)
Penyebaran ikan nila yang begitu cepat didukung dengan kecepatan reproduksi, menyebabkan perkembangan ikan ini tidak terkontrol. Dampak negatifnya adalah terjadinya perkawinan sedarah (inbreeding) yang menyebabkan menurunnya fenotif seperti pertumbuhan, kelangsungan hidup dan kelulushidupan serta meningkatnya jumlah individu yang abnormal.


Untuk mengatasi masalah penurunan kualitas ikan nila tersebut, berbagai upaya telah dilaksanakan, diantaranya dengan dibentuknya Broodstock Center yang memiliki tugas diantaranya adalah melakukan perbanyakan induk dasar dan induk pokok disamping itu dalam jangka panjang diharapkan terus melakukan perbaikan genetika induk melalui berbagai metode rekayasa genetika di beberapa sentra induk dengan sasaran akhir mendapatkan induk ikan nila unggul.


Balai Pengembangan dan Penelitian Budidaya Ikan Air Tawar (BPBIAT) Sukamandi telah melaksanakan kegiatan pemuliaan ikan Nila Salin dengan metode seleksi individu dan selanjutnya mengajukan permohonan untuk dilakukan penilaian terhadap jenis ikan Nila Sukamandi baru dengan kelas induk pokok (Parent Stock) yang layak untuk dilepas atau diperbanyak.

Nila Salin: Ikan Nila Tahan Air Asin Hasil Rekayasa BPPT

 

ikan nila di indonesiaproud wordpress com

Sebutan ”nila” pada ikan nila (Oreochromis niloticus) merujuk nama Sungai Nil di Afrika sebagai tempat asalnya, sekaligus menegaskan bahwa ikan itu berjenis ikan air tawar. Namun, para peneliti di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) berhasil merekayasanya menjadi ikan tahan air asin.

”Hasil rekayasa diberi nama ikan nila salin karena tahan salinitas tinggi,” kata Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Marzan Azis Iskandar, Selasa (29/11), saat peluncuran ikan itu di Jakarta.

Bersamaan ikan nila salin diluncurkan juga vaksin DNA Streptococcus, pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan, serta pencanangan pengembangan ikan nila salin di Karawang, Jawa Barat, dan Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Marzan menyebut ini sebagai paket inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat.

Vaksin DNA Streptococcus untuk meningkatkan kekebalan ikan nila salin terhadap risiko serangan bakteri Streptococcus yang mematikan. Pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan merupakan rekayasa pakan dengan kandungan protein yang sesuai untuk mempercepat pertumbuhan ikan nila salin.

Ikan konsumsi

Nila masuk ke Indonesia dari Taiwan untuk dipelihara dan dikembangbiakkan di Balai Penelitian Perikanan Air Tawar di Bogor, Jawa Barat, tahun 1969. Jenis ikan produksi ini termasuk banyak dikonsumsi di dunia dengan produsen terbesar China, Mesir, dan Indonesia.

Husni Amarullah, salah satu perekayasa BPPT yang turut meneliti ikan nila salin, mengatakan, metodenya melalui proses seleksi persilangan (dialling crossing) dari delapan varietas ikan nila. ”Seleksi pertama dengan uji tantang,” kata Husni.

Uji tantang adalah mengganti air tawar dengan air asin. Dari air tawar dengan salinitas hampir nol ditingkatkan salinitasnya sampai 10 bagian per seribu (parts per thousand/ppt), 20 ppt, dan 30 ppt.

Ikan yang berhasil melampaui uji tantang akan diseleksi. Kemudian, ikan-ikan itu disilangkan. Proses penyilangan menghasilkan ikan nila salin yang tahan tingkat salinitas 20 ppt atau air payau. ”Air laut memiliki tingkat salinitas 30-35 ppt,” ujar Husni.

Husni mengatakan, pengembangan ikan nila salin ke depan diperlukan yang mampu hidup di air laut. Dengan demikian, ikan bisa dibudidayakan di laut dengan jaring apung.

Pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan direkayasa dengan teknik pengambilan hormon pertumbuhan pada kelenjar pituitari ikan nila. Selanjutnya, digunakan teknik rekombinasi protein dengan bakteri Escherichia coli yang mudah dikembangbiakkan.

Dari proses itu dihasilkan protein rekombinan hormon pertumbuhan yang dicampurkan pada granula (butiran) pakan ikan. Husni mengatakan, dengan kadar protein yang sesuai dan kandungan hormon pertumbuhan itu, diharapkan dalam jangka enam bulan bisa diproduksi nila salin berbobot 600 gram.

”Bobot 600 gram per ekor ikan salin untuk konsumsi ekspor. Untuk konsumsi domestik sekitar 250 gram per ekor,” kata Husni.

Budidaya tambak

Marzan mengatakan, ikan nila salin semula dirancang untuk menggantikan komoditas ikan bandeng dan udang windu. Dua komoditas ini makin tidak tahan dengan kualitas lingkungan tambak yang memburuk. Akibatnya, banyak tambak telantar karena budidaya bandeng dan udang tidak lagi memungkinkan.

Menurut Husni, Indonesia memiliki potensi tambak seluas 1,2 juta hektar. Saat ini luas tambak 680.000 hektar, 50 persennya (340.000 hektar) telantar.

Ketua Perhimpunan Pembudidaya Tambak Pantura, Jawa Barat, Endi Muchtarudin hadir dalam peluncuran ikan nila salin. Endi bersama petani tambak lain di Karawang akan menguji coba nila salin, terutama di tambak-tambak telantar.

Bupati Bantaeng, Provinsi Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah juga menyatakan siap memproduksi ikan nila salin. Di Kabupaten Bantaeng akan dibangun pusat pembenihan ikan nila salin.

”Dari sisi pasar, Bantaeng siap menerima produk ikan nila salin. Saat ini warga Bantaeng mengolah ikan laut untuk diekspor ke Jepang dan masih kekurangan pasokan bahan baku,” tutur Nurdin.

Ikan nila salin dengan penunjangnya, yakni vaksin DNA Streptococcus dan pakan protein rekombinan hormon pertumbuhan, dipersiapkan menjadi komoditas baru tambak-tambak yang kini telantar. Inovasi ikan nila salin menjadi harapan bagi penciptaan lapangan kerja baru.

Sumber: perbenihan-budidaya.kkp.go.id

Koran Kompas (9/12/2011)

Posted in Uncategorized | Tagged , , , | Leave a comment

varietas ikan nila nirwana II

Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa sebagai sebagai salah satu sentra produksi induk nila (Regional Tilapia Center) untuk wilayah Jawa Barat telah melaksanakan kegiatan pemuliaan ikan Nila Wanayasa generasi ke 2 dengan metode seleksi individu mengajukan permohonan untuk dilakukan penilaian terhadap jenis ikan Nila Wanayasa baru dengan kelas induk dasar (Grand Parent Stock) yang layak untuk dilepas atau diperbanyak.
Penilaian Varietas yang bertujuan untuk memperkaya jenis dan varietas ikan nila sebagai salah satu alternatif bagi para pembudidaya ikan pada umumnya maupun pembenih pada khususnya dalam meningkatkan produksi benih ikan nila untuk peningkatan kesejahteraan para pembudidaya.
Berdasarkan hasil penilaian yang dilakukan oleh tim ahli terhadap jenis ikan nila wanayasa generasi ke-2 yang diusulkan BPBIAT Wanayasa dihasilkan ikan nila yang diberi nama Ikan Nila Nirwana II.

 

IKAN NILA NIRWANA
(Proses Pengelolaan dan Seleksi)

Ikan Nila di Jawa Barat merupakan ikan introduksi yang datang pertama kali dari Taiwan pada. tahun 1969 (Hardjamulia & Djajadireja 1977).

Tahun 1975
didatangkan Nila. Hibrid (hasil silang T. nilotica dan T. mossambica) dari Taiwan. Nila. Merah muncul pada. tahun 1981
yang diintroduksi dari Philipina. Kemudian pada tahun 1988 – 1989 didatangkan Parent Stock Nila Chitralada dari Thailand, namun tidak berkembang.

Ikan Nila GIFT merupakan varietas baru dari jenis Ikan Nila yang yang dikembangkan oleh ICLARAM di Philipina. Ikan Nila GIFT tersebut diintroduksi dari Philipina pada. tahun 1995 – 1997. Pada. tahun 2002 BPBI Wanayasa memperoleh famili Ikan Nila GET (Genetically Enhanched of Tilapia). Ikan Nila GET tersebut diintroduksi dari Philipina oleh Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat melalui BFAR (Bureau of Fisheries and Aquatic Research).

Sejak pertama kali didatangkan, sejak itu pula. budidaya Ikan Nila. dimulai. Kemampuan Ikan Nila dalam beradaptasi dengan lingkungan barunya menjadikan ikan ini mudah menyebar dan menjadi primadona dalam dunia budidaya perairan, khususnya perairan tawar.

Penyebaran Ikan Nila yang sangat cepat didukung dengan kecepat barunya bereproduksi menjadikan perkembangan ikan ini tidak terkontrol. Dampak negatifnya adalah banyak terjadi silang dalam (inbreeding), yang berakibat pada menurunnya kualitas genetik ikan, selanjutnya akan menyebabkan turunnya performa ikan tersebut baik pertumbuhan, daya tahan terhadap, penyakit,maupun kemampuan beradaptasi terhadap perubahan lingkungannya.

Untuk mengatasi penurunan kualitas genetik Ikan Nila tersebut, Ariyanto (2004) menyatakan salah situ langkah yang dapat ditempuh adalah melaksanakan program pemuliaan dengan Sasaran akhir mendapatkan induk lkan Nila unggul. Keunggulan tersebut diharapkan dapat diwariskan pada keturunannya, sehingga menghasilkan benih unggul (berkualitas). Salah situ alternatif program pemuliaan dalam menghasilkan induk unggul adalah melalui program penangkapan seleksi (selective breeding).

IKAN NILA NIRWANA (Nila Ras Wanayasa)

Upaya-upaya mendasar yang mengarah kepada penangkaran selektif Ikan Nila telah dimulai oleh Balai Pengembangan Benih Ikan (BPBI) Provinsi Jawa Barat yang berlokasi di Wanayasa dengan mengoleksi 18 famili Ikan Nila. GIFT generasi ke-6 dan 24 famili Ikan Nila GET dari Philipina. Selanjutnya pada tahun 2003, BPBI Wanayasa melakukan kerjasama dengan para. pakar perikanan dari Tim Ahli Tilapia Broodstock Center, untuk menyusun dan melaksanakan program pengelolaan dan seleksi Ikan Nila tersebut dengan tujuannya untuk mernpertahankan atau bahkan mernperbaiki kualitasnya.

Sumber genetik kegiatan seleksi adalah GIFT (Genetic Improvement for Farmed Tilapia) dan GET (Genetically Enhanched Tilapia). Saat ini dalam kurun waktu pengerjaan selama 3 (tiga) tahun, BPBI Wanayasa telah mendapatkan induk penjenis (Great Grand Parent Stock/GGPS), yang selanjutnya diberi nama Ikan Nila Nirwana. (Nila. Ras Wanayasa) yang, penyediaan dan diseminasinya diawasi oleh pemerintah.

Kegiatan seleksi dilaksanakan di Balai Pengembangan Benih Ikan Air Tawar (BPBIAT) Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat. Pelaksanaan seleksi famili dimulai pada minggu ke-3 bulan Juli Tahun 2003 dan masih berlangsung sampai dengan saat ini.

Induk Penjenis (GGPS/Great Grand Parent Stock) dari Ikan Nila Nirwana (Nila Ras Wanayasa) dicapai pada generasi ke-3 dan direlease pada tanggal 16 Desember 2006 berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor. KEP.45/MEN/2006 tentang Pelepasan Varietas Ikan Nila Nirwana Sebagai Varietas Unggul Induk Penjenis.

Program penangkaran selektif Ikan Nila Ras Wanayasa ini dilakukan sepenuhnya oleh staf-staf terampil BPBIAT dengan bimbingan dari Tim Ahli “Tilapia Broodstock Center” Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia

PROSEDUR PELAKSANAAN SELEKSI

Program penangkaran selektif yang dilaksanakan adalah seleksi famili” (Gambar 1), mengacu pada SPO pemuliaan Ikan Nila yang diterbitkan oleh Pusat Pengembangan Induk Ikan Nila Nasional (PPIIN) tahun 2004 yang dimodifikasi sesuai dengan kondisi lapangan.

Tahapan kegiatan untuk setiap generasi dilakukan dengan langkah kerja sebagai berikut :

1. Menyiapkan sejumlah famili dari koleksi yang ada;

2. Mengkondisikan Induk Ikan Nila yang akan diseleksi agar dapat memijah secara bersamaan;

3. Memijahkan sebanyak 5 (lima) pasang Induk untuk masing-masin famili hasil persilangan yang baru;

4. Mengamati secara periodik untuk menandai pasangan-pasangan yang memijah

5. Benih ikan dari pasangan masing-masing famili yang memijah pada hari yang sama digabung dan diambil secara acak sebanyak 500 ekor untuk dipelihara lebih lanjut;

6. Pendederan benih ikan dilakukan pada hapa berukuran 5 x 2 x 1,5 M3 di kolam sampai dapat dibedakan antara jantan dan betina secara Morfologis (umur 4 bulan);

7. Kelompok Ikan Nila jantan dan kelompok Ikan Nila Betina ditimbang dan diukur (panjang baku, tinggi badan dan panjang kepala) satu per satu.;

8. Kemudian. dipilih 10 ekor betina terbesar dan 10 ekor jantan terbesar dan selajutnya ditagging serta dilakukan pencatatan

9. Setiap famili hasil seleksi dipelihara secara terpisah antara jantan dan betina sampai siap dipijahkan untuk membentuk generasi berikutnya.

Saat ini dalam kurun waktu pengerjaan selama 7 (tujuh) tahun, telah didapatkan enam generasi Induk (F6).

PENGEMBANGAN DAN PRODUKSI

A. Pengembangan.
Melanjutkan  kegiatan seleksi hingga dapat menghasilkan lnduk Nila Nirwana generasi selanjutnya.

B. Produksi dan Distribusi
Hingga saat ini, telah tercatat lebih dari 500 paket induk dan 15 juta ekor benih yang telah didistribusikan ke berbagai wilayah di Indonesia

sumber: perbenihan-budidaya.kkp.go.id/

bpbiat.wordpress.com

 

Posted in Uncategorized | Tagged , , | 2 Comments